si penyendiri

Kamis, 22 Oktober 2015

bodoh

Aku tidak tau harus dari mana memulai ini, hatiku sakit sebenarnya... selalu saja kurasakan seperti ada yang hilang, tapi ketika didekatku aku selalu menafikkannya. Tidak ada yang lebih menyedihkan selain kenyataan yang tidak pernah bisa dipungkiri. Kadang terucap syukurku, kadang kutangisi hidupku, seakan tuhan sedang tidak adil. mungkin tidakkan pernah kautemukan orang yang menyanyangimu sepertiku. Bahkan sampai ajal menjemputmu. Tapi kenyataan dan takdir adalah pedang yang terus melukaiku. Akan kutinggalkan ini.. bisa sepertinya, asal tak kutemukkan kau dihidupku selanjutnya. kau bermain dengan kepentinganmu, aku meratapi kebodohanku. Seperti cinta tak terbalas saja jadinya. Tapi aku tau kau akan disisiku kalau takdir berkata lain. aku tidak pernah menangisi hal lain selain keluargaku. Sedang dengan kau, kutangisi hidupku seperti aku yatim piatu saja. Aku tak pernah membutuhkan bahu orang lain, sedang dengan kau.. seakan semua bahu adalah tempat bersandarku. Galau itu tabu sebenarnya tapi dengan kau aku mengartikannya.... aku menjadi sangat melankolis... padahal dulunya bahuku selalu tegar dan daguku selalu lurus. Aku benci kau dengan semua rasa sayang ini. Berharap tuhan memberimu kebahagian sampai ajal menjemputmu. Berharap kutemukan orang yang menyanyangiku seperti kusayang kau. aku berharap tak mengenalmu dikehidupanku setelah ini.. biar kujalani hidupku. Tanpa bayang-bayangmu..kepedulian yang selalu seperti duri, terus menusukku. bukankah aku terlihat seperti orang munafik?? Menyatakan kerapuhanku tanpamu lalu seperti menyalahkanmu dibeberapa titik tulisanku?. Kusesali sebenarnya kenapa harus kutemukan kau disisi jalanku sedang kau bukanlah tujuanku. Memintaku berhenti lalu pergi. ataukah ketidaktahuanku akan niatmu memang pantas menjadi deritaku.?! kegagalanku dalam banyak hal hanya membuatku menangisi hidupku sehari. Lalu kutinggalkan dan kujalani hidupku kembali. Sedang kekhawatiranku tentang hidupmu begitu menguras hati. Sampai tak kutemukan kebahagian disetiap gelak tawa orang lain. Memikirkanmu untuk setiap kebahagiannya yang kudapati setiap hari. Kerisauan yang sepertinya hanya jadi milikku. Aku penasaran apa yang ibuku pikirkan tentang ini, aku ingin menanyakannya. Tapi aku takut dia akan menyuruhku meninggalkanmu seperti yang mereka suruhkan. Tidak siap sepertinya walau kutahu akhirnya semua hanya akan jadi dukaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar